BERUSWAH KEPADA NABI MUHAMMAD

0 komentar

dakwatuna.com – Sahabatku, kita punya cara untuk mengenang orang paling mulia di dunia, Nabi Muhammad saw.. Catatan ringkas ini semoga menjadi renungan buat kita. Berteladan kepada Nabi saw. Dia sejatinya uswah, pasti tidak akan membuat kita kecewa!


1) Kalau ada pakaian yang koyak, Nabi saw menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

2) Setiap kali pulang ke rumah, bila belum tersaji makanan karena masih dimasak, sambil tersenyum beliau menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Aisyah menceritakan bahwa kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

3) Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudahnya.

4) Pernah beliau pulang menjelang pagi hari. Tentulah beliau teramat lapar waktu itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang tersedia untuk sarapan. Bahkan bahan mentah pun tidak ada karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?’ Aisyah menjawab dengan agak serba salah, ‘Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.’ Rasulullah lantas berkata, ‘Jika begitu aku puasa saja hari ini.’ tanpa sedikit tergambar rasa kesal di raut wajah beliau.

5) Sebaliknya Nabi saw sangat marah tatkala melihat seorang suami sedang memukul isterinya. Rasulullah menegur, ‘Mengapa engkau memukul isterimu?’ Lantas lelaki itu menjawab dengan gementar, “Isteriku sangat keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap membangkang juga, jadi aku pukul dia.” Jelas lelaki itu.

“Aku tidak bertanya alasanmu,” sahut Nabi saw.

“Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?”

6) Kemudian Nabi saw bersabda,”Sebaik-baik suami adalah yang paling baik, kasih dan lemah-lembut terhadap isterinya.’ Prihatin, sabar dan tawadlu’nya beliau dalam posisinya sebagai kepala keluarga langsung tidak sedikitpun merubah kedudukannya sebagai pemimpin umat.

7) Pada suatu ketika Nabi saw menjadi imam shalat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan Nabi antara satu rukun ke rukun yang lain agak melambat dan terlihat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi gemeretak seakan sendi-sendi di tubuh Nabi mulia itu bergeser antara satu dengan yang lain. Lalu Umar ra tidak tahan melihat keadaan Nabi yang seperti itu langsung bertanya setelah shalat.

‘Ya Rasulullah, kami melihat sepertinya engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah engkau ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat wal ‘afiat.”

“Ya Rasulullah.. .mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar suara gemeretak pada sendi-sendi tulangmu? Kami yakin engkau sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Ternyata perut beliau yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil, untuk menahan rasa lapar beliau. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi gemeretak setiap kali bergeraknya tubuh beliau.

“Ya Rasulullah! Apakah saat engkau menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kemudian kami tidak akan mengusahakannya buat engkau?’

Lalu Nabi saw menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?’ ‘Biarlah kelaparan ini
sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

8) Nabi saw pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang dipenuhi kudis, miskin dan kotor.

9) Beliaupun hanya diam dan bersabar ketika kain sorbannya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Badawi hingga berbekas merah di lehernya. Begitupun dengan penuh rasa kehambaan beliau membersihkan tempat yang dikencingi seorang arab Badawi di dalam masjid sebelum beliau tegur dengan lembut perbuatan itu.

10) Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa penghambaan yang sudah menghunjam dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ingin diistimewakan (dipertuan).

11) Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan sebab untuknya merasa lebih dari yang lain, ketika di depan keramaian (publik) maupun saat seorang diri.

12) Pintu Syurga terbuka seluas-luasnya untuk Nabi, namun beliau masih tetap berdiri di sepinya malam, terus-menerus beribadah hingga pernah beliau terjatuh lantaran kakinya bengkak-bengkak.

13) Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Bila ditanya oleh ‘Aisyah, ‘Ya Rasulullah, bukankah engaku telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?’ Jawab baginda dengan lembut, ‘Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.’

آللّهُمَ صَلّیۓِ ۈسَلّمْ عَلۓِ سَيّدنَآ مُحَمّدْ وَ عَلۓِ آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ Selengkapnya...

0 komentar


Selengkapnya...

GUBERNUR BUKA MUSWIL PKS JABAR KE 2

0 komentar

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Musyawarah Ke-2 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Barat resmi dibuka oleh Gubernur, Ahmad Heryawan, Kamis (7/10) sore. Dalam kesempatan tersebut digaungkan kembali semangat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Jabar.

Kegiatan yang digelar di Hotel Mason Pine, Kabupaten Bandung Barat yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh. Di antaranya Ketua Majelis Syuro PKS, KH Hilmi Aminudin, Ketua Bidang Wilayah Dakwah DKI, Jabar, dan Banten, Makmur Hasanudin, Wakil Gubernur Jabar, Dede Yusuf, Ketua DPRD Jabar, Irfan Suryanegara, Wakil Ketua DPRD Jabar Bupati Bandung Barat, Abubakar, dan sejumlah anggota DPR RI asal Jabar.


Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, mengatakan, muswil menjadi sebuah momentum untuk mencapai tujuan yang besar yakni memajukan masyarakat Jabar. ‘’Muswil harus mencapai tujuan yang lebih besar,’’cetus dia.

Selain itu, muswil merupakan salah satu cara untuk menjaga pilar demokrasi parpol. Terlebih, parpol merupakan pilar demokrasi terpenting.

Muswil lanjut Heryawan, dapat dijadikan sarana untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Lebih lanjut dia menuturkan adanya keragaman di tengah masyarakat termasuk parpol patut untuk disyukuri. ‘’Keragaman partai politik adalah suatu keniscayaan,’’tambah Heryawan. Perbedaan mengakibatkan adanya pengawasan antara satu dengan yang lain.

Ketua Bidang Wilayah Dakwah PKS DKI, Jabar dan Banten, Ma’mur Hasanudin mengatakan, PKS Jabar harus meningkatkan raihan suara dalam pemilu mendatang. ‘’Dari target suara tiga besar nasional, Jabar mesti satu besar di wilayahnya,

Semangat peningkatan suara tersebut, lanjut Ma’mur disebabkan adanya penurunan suara 14 persen pada pemilu lalu. Ia berharap muswil dapat merumuskan kebijakan yang strategis dalam meningkatkan raihan suara.

Ketua DPW PKS Jabar, 2005-2010, Taufiq Ridho berharap, kepemimpinan yang lahir dalam muswil nanti diharapkan lebih baik kinerjanya dibandingkan kepengurusannya. ‘’Kepemimpinan nanti harus lebih baik dan bisa memanjukan partai,’’imbuh dia.

Ketua Majelis Syuro PKS, KH Hilmi Aminudin menuturkan, agar parpol termasuk PKS mampu mengakomodasi harapan dan aspirasi warga. Di antaranya ketersediaan jalan yang baik, investor mudah datang ke Jabar, ibadah tenang.

‘’Muswil bisa merumuskan program dan langkah yang bisa memenuhi harapan rakyat,’’kata Hilmi. Terutama, dalam menjamin ketersediaan pangan, ketenangan berpikir (ibadah), lain sebagainya. Sehingga, lanjut Hilmi, keberadaan PKS harus bisa dirasakan manfaatnya oleh semua lapisan masyarakat.
Red: Krisman Purwoko

source : http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/politik/10/10/07/138934-gubernur-buka-muswil-pks-jabar-ke2

diposting oleh : pkscilengkrangbandung.blogspot.com
Selengkapnya...

Gubernur Jabar Klarifikasi Fitnah Kartu Lebaran

0 komentar

KLIKOMPAS: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan prihatin sekaligus menghargai sikap masyarakat yang mengkritisi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengirim kartu ucapan Selamat Lebaran kepada masyarakat Jawa Barat. Ia menilai, reaksi berlebihan dari sejumlah kelompok masyarakat terjadi karena tidak informasi yang diterima mereka tidak lengkap dan bias. Anggaran untuk keperluan tersebut adalah Rp 850 juta bukan Rp 1,7 miliar.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan humas Pemprov Jabar Minggu (5/9/2010) sore, Achmad Heryawan menegaskan, rencana mengirimkan kartu ucapan Lebaran tersebut melalui proses yang legal, sesuai peraturan yang berlaku. “Kebijakan pengiriman kartu ucapan tersebut, semata-mata didasari niat murni menjalin silahturahmi dan memaknai Idul Fitri sebagai kemenangan umat muslim se-dunia,” katanya.

Dipaparkan dalam siaran pers tersebut, proses pengadaan Kartu Ucapan Selamat Idul Fitri dan Permohonan Maaf Lahir Batin 1431 Hijriyah itu, melalui mekanisme lelang, sesuai Keppres No.80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Sedangkan pengadaan perangko dilaksanakan berdasarkan Perjanjian Kerjasama dengan PT Pos Indonesia No. 554/02/TU tertanggal 4 Januari 2010, yang meliputi pengiriman surat/barang dalam dan luar negeri, pengepakan surat/barang, dan pencetakan perangko.


Jumlah kartu yang cetak sebanyak 350 ribu dan jumlah perangko yang dipesan sebanyak 250 ribu. Karena pengiriman selain via Pos juga memanfaatkan fasilitas distribusi internal pemerintahan.

Untuk pencetakan 350 ribu kartu ucapan tersebut, pagu anggrannya Rp 700 juta, atau Rp 2.000 per kartu ucapan. Tetapi, dari hasil proses lelang , anggaran dapat ditekan sampai 50 persen, dengan demikian dana yang dikeluarkan hanya Rp 351 juta atau Rp 1.000 per kartu.

Sedangkan anggaran prangkonya adalah Rp 500 juta, atau Rp 2.000 per kartu, untuk 250 ribu kartu ucapan. Sisa kartu sebanyak 100 ribu, dikirim tanpa menggunakan prangko karena menggunakan mekanisme internal.

“Jadi, total dana yang akan dikeluarkan untuk kebutuhan tersebut adalah Rp 851 juta, bukan Rp 1,7 miliar sebagaimana dilansir dalam sejumlah pemberitaan media massa,” katanya.

Dipaparkan pula, kartu ucapan yang berisi kata-kata Selamat Idul Fitri dan Permohonan Maaf lahir dan Batin tersebut, bukan atas nama pribadi Achmad Heryawan, melainkan atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk kepentingan dinas. Sebanyak 250 ribu kartu akan dikirim dari kantor Gubernur dan 100 ribu dari kantor wakil gubernur.

Karena itu, kartu ucapan ditandatangani Gubenur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, ada frasa Pemerintah Provinsi Jawa Barat, lambang Provinsi Jawa Barat, memakai alamat Jalan Diponegoro Nomor 22 Bandung, dan latar belakang fotonya adalah foto Gedung Sate, kantor kegubernuran.

Pengiriman kartu ucapan tersebut juga, kata Heryawan pada sebuah kesempatan, wujud dari rasa terima kasih dan tanggung jawab pemerintahannya kepada rakyat Jawa Barat yang memberi amanah untuk memimpin mereka. Sekaligus sebagai wujud komitmen dan tanggung jawab moral pemerintahannya kepada warga.

“Nilai rasa, perhatian, silaturahmi, keakraban dan kebahagiaan tidak bisa dikalkulasi dengan uang. Saya yakin kartu ucapan Lebaran mampu menghadirkan ruang visual dan ruang teks yang lebih dekat bagi Gubernur dan Wakil Gubernur dalam menyapa warganya. Sehingga pilihan mengirim kartu Lebaran bukan hal yang salah. Mengirim pesan singkat atau SMS juga saya tempuh, apalagi jumlah kartu yang akan dikirim kurang dari 1 persen dari jumlah penduduk Jawa Barat,” ujar Heryawan menjawsab pertanyaan wartawan di sela kegiatan Ramadhannya di Bandung.

Dengan keluarnya klarifikasi resmi dari pihak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, semoga insan pers agar lebih berhati-hati dalam melakukan pemberitaan bila data yang menjadi dasar masih belum lengkap. Media massa cetak, elektronik dan online sudah seharusnya juga secara fair melakukan permintaan maaf secara terbuka terhadap Gubernur Jawa Barat akan pemberitaan yang cenderung bersifat fitnah.
Selengkapnya...

Warga Bandung: Ridho Bupati Bandung 2010-2015

0 komentar

KLIKOMPAS: “Ridho Bupati Kabupaten Bandung 2010-2015″ kalimat tersebut menjadi semakin tersebar dan diyakini oleh sebagian besar warga masyarakat kabupaten Bandung. Keyakinan warga kabupaten Bandung yang akan menentukan pilihanya pada Minggu 29/08/2010 dikarenakan kepuasan akan kejelasan visi dan misi yang dipaparkan dalam meminpin Kabupaten Bandung 5 tahun kedepan.

Pasangan Nomor 8 Calon Bupati dan Wakil Bupati Bandung Masa Jabatan 2010-2015, Ridho Budiman Utama dan Dadang Rusdiana, tampil paling akhir menyampaikan Visi, Misi, dan Program Pembangunan Kabupaten Bandung 2010-2015 dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Bandung yang digelar hari Rabu (11/08). Dari delapan pasang calon yang tampil, mayoritas hadirin menyatakan bahwa paparan Ridho-Darus adalah yang paling bagus. “Naskah visi misinya bagus, begitu pula media presentasinya,” ungkap sejumlah hadirin. Ridho-Darus tampil memukau dengan membawa pesan utama Pembangunan Lembur-Dayeuh (Rural-Urban Development) Kabupaten Bandung. Dalam visi misinya, Ridho-Darus merancang pembangunan yang sinergi antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan yang ada di Kabupaten Bandung.


Konsep Pembangunan Lembur-Dayeuh

Secara geografis wilayah Kabupaten Bandung berada di kawasan feri-feri atau sub urban Metropolitan Bandung, sehingga secara fisik wilayah Kabupaten Bandung sebagian diantaranya bercirikan sebagai kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk, kepadatan bangunan dan masyarakatnya yang berkarakter perkotaan, sedangkan sebagian lainnya bercirikan kawasan perdesaan yang terdiri dari kawasan pertanian, perkebunan, kawasan konservasi dan kultur masyarakat agrarisnya yang tradisonal dan alami.

Dengan kondisi wilayah Kabupaten Bandung yang bercirikan campuran antara kawasan perkotaan dan perdesaan tersebut, tentunya dibutuhan kebijakan dan program-program pembangunan yang tepat dengan melakukan 2 (dua) pendekatan yang berbeda secara bersama-sama, yakni pendekatan pembangunan di kawasan perkotaan dan pendekatan pembangunan di perdesaan. Kedua pendekatan itu harus dijalalankan secara serasi dan terintegrasi sehingga perkembangan di kawasan perkotaan maupun di kawasan perdesaan dapat saling menunjang dan melengkapi.

Hingga saat ini kebijakan dan program-program pembangunan di Kabupaten Bandung belum menampakan kebijakan, program dan pendekatan yang jelas guna menangani perkembangan kawasan perkotaan yang berkembang secara sporadis di satu sisi dan tuntutan pembangunan perdesaan di sisi lain. Akibatnya tidak heran jika dewasa ini wajah pembangunan Kabupaten Bandung seakan tidak menampilkan jati diri yang jelas, dimana kawasan perkotaannya tumbuh secara sporadis, dengan kawasan permukiman, pengelolaan sampah, air kotor, air bersih dan sistem transportasi yang kurang tertata, seolah tidak memiliki cetak biru perkembangan kota yang jelas. Di sisi lain kawasan perdesaan, pertanian dan konservasi juga semakin kurang lestari, kerusakan lingkungan terjadi disana-sini sehingga kejadian wabah penyakit dan bencana alam teruma kekeringan di musim kemarau serta tanah longsor dan banjir di musim hujan, yang seakan-akan menjadi bencana tahunan yang tidak mampu ditangani.

Berdasarkan hal itu pasangan Ridho-Darus terpanggil untuk membawa kesadaran bahwa ada yang kurang tepat dalam pengelolaan pembangunan Kabupaten Bandung selama ini, dan ingin membawa perubahan dengan menawarkan pendekatan pembangunan yang lebih tepat, guna memperbaiki kondisi ke arah yang lebih baik. Pendekatan tersebut adalah pendekatan pembangunan yang lebih spesifik bagi kawasan perdesaan maupun perkotaan Kabupaten Bandung, sehingga tercipta kawasan yang maju, mandiri dan sejahtera. Pendekatan pembangunan yang seimbang, selaras dan serasi antara pendekatan pembangunan perdesaan dengan perkotaan.

Dengan konsep pembangunan Lembur-Dayeuh Kabupaten Bandung diharapakan di kawasan perdesaan pembangunan dijalankan guna mewujudkan desa-desa yang mandiri dan lestari, melalui pengembangan infrastruktur perdesaan serta pembangunan sosial, budaya dan ekonomi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat perdesaan. Sedangkan di kawasan perkotaan pembangunan dijalankan guna mengembangkan layanan jasa, industri, perdagangan dan layanan perkotaan lainnya melalui pengembangan infrastruktur perkotaan serta pembangunan sosial, budaya dan ekonomi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat perkotaan.

Tentu penerapan pendekatan pembangunan yang berbeda antara kawasan perdesaan dan perkotaan tersebut bukan dimaksudkan untuk melakukan segregasi/pemisahan antara kawasan perdesaan dan perkotaan, akan tetapi justru untuk membangun pertumbuhan wilayah yang sinergis antara kawasan perdesaan dan perkotaan di wilayah Kabupaten Bandung. Dengan demikian kawasan perdesaan dapat berperan sebagai pemasok sumber daya yang berkelanjutan bagi kawasan-kawasan perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya kawasan perkotaannya berperan sebagai pusat-pusat layanan bagi desa-desa di sekitarnya, baik layanan ekonomi (pusat distribusi, industri pengolahan, jasa perdagangan, industri, keuangan/perbankan,dll), maupun layanan sosial (pendidikan menengah/tinggi, kesehatan, hiburan, dll).

8 Program Unggulan

Dengan mengusung visi “Mewujudkan Kabupaten Bandung sebagai Daerah yang Mandiri, Maju, dan Sejahtera Tahun 2015”, Ridho-Darus merancang misi yang dirangkum dalam kata “SEJAHTERA” sebagai berikut.

S-iapkan infrastruktur dasar dan suprastruktur pembangunan yang ramah lingkungan.

E-tos kerja dan penataan birokrasi untuk mewujudkan tata pemerintahan yang bersih dan profesional

JA-dikan Kabupaten Bandung sebagai daerah eko-wisata

H-adirkan kehidupan masyarakat yang agamis dan berbudaya luhur

T-ingkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang unggul dan berdaya saing

E-mansipasi dalam partisipasi pembangunan

R-aih prestasi Kabupaten Bandung sebagai daerah investasi utama di Jawa Barat

A-tasi masalah kemiskinan dan pengangguran.

Untuk menjalankan misi yang telah dirancang dengan mempertimbangkan praktik perencanaan pembangunan yang selama ini dilaksanakan dan mempertimbangkan permasalahan dan tantangan pembangunan ke depan, maka kami mengajukan 8 (Delapan) Program Unggulan dengan Arah dan Prioritas Kebijakan diletakkan pada 3 (tiga) kelompok program sebagai berikut.

1. Program yang bersifat Prioritas, yaitu program yang mendesak untuk dilakukan dalam jangka pendek karena menjadi kebutuhan utama masyarakat.
2. Program yang bersifat Utama, yaitu program yang harus dilakukan terkait upaya mencapai visi pembangunan.
3. Program yang bersifat Penunjang, yaitu program bidang terkait yang menunjang keberhasilan program prioritas dan program utama.

8 (Delapan) Program Unggulan merupakan puncak dari program-program pembangunan yang kami rancang untuk mewujudkan Kabupaten Bandung yang mandiri, maju, dan Sejahtera. Program-program yang merefleksikan pilihan prioritas, keberpihakan, dan sekaligus aksi nyata dalam menyelesaikan permasalahan ini kami susun sebagai berikut.

1. Akses terhadap Pelayanan Kesehatan Dasar dan Pendidikan

Peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar merupakan salah satu poin yang harus direalisasikan dalam rangka mencapai Millenium Development Goals (MDGs) dan mewujudkan Visi Indonesia Sehat. Upaya-upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, penekanan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) sudah selayaknya menjadi prioritas bagi pemerintah. Pembangunan sarana pelayanan kesehatan, penyediaan tenaga kesehatan yang profesional, optimalisasi sistem jaminan kesehatan, serta upaya-upaya pembangunan kesehatan partisipatif berbasis masyarakat seharusnya dikelola secara proporsional dan mendapatkan dukungan anggaran dari pemerintah daerah.

Dalam pembangunan di bidang pendidikan, APBD dialokasikan secara optimal untuk pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Tidak boleh lagi ada anak-anak yang tidak bersekolah karena hambatan biaya pendidikan. Jika dirancang dengan baik, pada hakikatnya APBD Kabupaten Bandung sangat memadai untuk memenuhi biaya pendidikan siswa mulai tingkat SD hingga SLTA. Kualitas pendidikan perlu terus ditingkatkan dengan menerapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan yang baik, memberikan penghargaan yang pantas bagi para guru, memfasilitasi pengadaan berbagai media pembelajaran, dan perluasan akses informasi dan teknologi dalam pendidikan. Dalam batas kewenangan yang terus dikembangkan dan disinergikan, pemerintah daerah pun perlu memberikan dukungan pada perbaikan kualitas pendidikan keagamaan, termasuk di dalamnya penyelenggaraan pendidikan di madrasah, pesantren, dan diniyah takmiliyah.

2. Membangun Ekonomi Kerakyatan dan Penyerapan Tenaga Kerja

Terlepas dari perbedaan dalam penetapan kriteria kemiskinan dan data yang ada, angka kemiskinan di Kabupaten Bandung terbilang tinggi, bahkan termasuk ke dalam urutan atas se-Provinsi Jawa Barat. Bertambahnya jumlah pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), permintaan Kartu Jamkesmas dan Jamkesda yang terus meningkat, dan juga banyaknya Raskin yang harus didistribusikan merupakan beberapa parameter kasat mata dari kemiskinan.

Pembangunan di bidang ekonomi seharusnya lebih difokuskan pada penguatan ekonomi berbasis kerakyatan dengan menumbuhkan semangat wirausaha , menciptakan iklim usaha yang kondusif, pembinaan koperasi dan unit-unit ekonomi kerakyatan lainnya, hingga upaya-upaya untuk mempermudah akses modal dan akses pasar bagi produk-produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Upaya menekan angka pengangguran dan penyaluran angkatan kerja perlu dilakukan dengan menggalang kerjasama yang baik dengan sektor swasta dan masyarakat, diantaranya dengan pembukaan Balai Latihan Kerja (BLK) dan pengembangan sekolah-sekolah kejuruan dengan konsep link and match dengan pasar tenaga kerja, serta melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan ketrampilan lokal untuk menghasilkan tenaga kerja yang trampil dan atau memiliki motivasi kuat untuk berwirausaha dan membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Tidak lepas dari urusan pemerintah daerah adalah memberikan perhatian pada para buruh. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komponen masyarakat, pemerintah perlu memberikan penghargaan berupa dukungan bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial para buruh dan keluarganya agar dapat mengambil peran dan berkontribusi dalam pembangunan.

3. Peningkatan Produktivitas Sektor Pertanian

Potensi pertanian di Kabupaten Bandung sangat besar, meliputi tanaman pangan, sayur-sayuran, buah-buahan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Meskipun demikian, sejauh ini pemerintah daerah belum mampu mengoptimalkan produktivitas sektor pertanian sehingga tidak berdampak positif pada kesejahteraan para petani.

Sistem produktivitas pertanian seperti konsep tata guna lahan, regulasi, sertifikasi lahan, ketersediaan tenaga penyuluh dimulai dari aspek teknologi, permodalan dan akses pasar, dan lain-lain perlu ditata dengan baik. Di samping itu, program dan kegiatan terkait teknologi pengolahan pasca panen dan diversifikasi produk pertanian perlu dikuatkan sehingga memberikan nilai tambah yang signifikan pada peningkatan kesejahteraan petani.

4. Pembangunan Kawasan Agropolitan

Potensi agro dan produktivitas sektor pertanian di Kabupaten Bandung sangat layak untuk dikembangkan ke arah industrialisasi. Pembangunan kawasan agropolitan di Kabupaten Bandung dapat menjadi program yang spesifik dan unggul untuk menjembatani pembangunan kawasan perdesaan dan perkotaan. Program ini dapat direalisasikan mulai dari pembangunan klaster industri untuk pengolahan produk unggulan pertanian hingga pembangunan agroindustri skala kecil di pedesaan dengan jejaring bisnis yang terintegrasi dan modern.

5. Pengembangan Ekowisata yang Berkelanjutan

Selain dianugerahi dengan keindahan alam yang luar biasa, Kabupaten Bandung pun kaya akan warisan seni dan budaya yang luhur. Program kreatif dan inovatif dalam pengembangan ekowisata yang berkelanjutan dipastikan dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan sejumlah multiplyer effects bagi kemajuan sektor-sektor ekonomi, ketenagakerjaan, kewirausahaan, dan sebagainya.

Secara bertahap dan berkelanjutan, pengembangan “kampung wisata” sangat prospektif dengan fokus pada wisata seni-budaya, wisata alam dan wisata petualangan yang dikombinasikan dengan wisata belanja dan wisata kuliner. Dukungan lain pun perlu diupayakan dengan mengembangkan infrastruktur seni-budaya sunda serta melestarikan budaya lokal secara kreatif dan sejalan dengan perkembangan teknologi.

6. Pelestarian Lingkungan Hidup dan Penanganan Bencana

Berbagai fenomena alam dan kelalaian manusia yang cenderung mengeksploitasi lingkungan hidup menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup yang cukup signifikan di Kabupaten Bandung. Hal tersebut berdampak pada terjadinya sejumlah bencana, khususnya banjir di sepanjang Daerah Aliran Sungai Citarum atau Cekungan Bandung. Bencana lokal yang berulang setiap tahunnya ini menjadi salah satu isu bencana yang sangat mendesak untuk ditangani.

Solusi permasalahan banjir memerlukan pendekatan yang komprehensif melibatkan aspek struktural dan nonstruktural, sosio-kultural, simultan dari hulu ke hilir, dan sinergi multisektor bersama masyarakat. Kerjasama dan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait dan pendekatan sosial ekonomi dan budaya dengan menghidupkan kembali nilai-nilai positif kearifan lokal dan orientasi pembangunan yang ramah lingkungan perlu ditingkatkan. Pengawasan dan pengendalian pun perlu diperketat dalam hal regulasi daerah tampungan air dan perijinan konversi lahan, penertiban garis sempadan sungai, pengendalian limbah domestik, industri, peternakan dan pertanian. Dalam jangka panjang, rehabilitasi dan pemulihan perlu didukung dengan membangun sejumlah waduk atau situ buatan, folder atau retensi, dan sumur resapan.

7. Pembangunan Infrastruktur

Stagnansi pembangunan infrastruktur di Kabupaten Bandung menjadi temuan keseharian selama sepuluh tahun terakhir. Dari 1.136 km ruas jalan kabupaten yang ada, 40%-nya dikategorikan rusak berat. Akses ke sejumlah daerah utama pun dirasakan masih sulit. Kondisi tersebut sangat mengganggu dinamika kehidupan sosial dan menghambat pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Pembangunan infrastruktur perkotaan dan pedesaan harus dilakukan secara merata dan berkualitas untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan jalan lingkar maupun jalan poros dipastikan akan mempermudah akses ke sentra aktivitas masyarakat, khususnya sektor pertanian dan industri.

8. Birokrasi yang Bersih, Amanah dan Profesional, serta Responsif dan Kompetitif

Selama ini masyarakat merasa kurang nyaman jika berurusan dengan birokrasi. Birokrasi dianggap sebagai sesuatu yang sulit, berbelit, dan mahal. Reformasi birokrasi selayaknya menciptakan aparatur pemerintah daerah yang bersahabat dan bekerja optimal dalam menyelenggarakan pelayanan publik.

Sistem Pelayanan Satu Pintu, transparansi perijinan usaha, pelayanan dasar seperti KTP, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, dan sejumlah kepentingan publik lainnya perlu diselenggarakan secara profesional, mudah, dan murah. Hal ini perlu didukung pula dengan insentif yang layak bagi Kepala Desa, Ketua Rukun Warga, dan Rukun Tetangga untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas di barisan terdepan pelayanan pada masyarakat.
Selengkapnya...

Khutbah Rasulullah menjalang Ramadhan

0 komentar

Dari Salman al-Farisi ra. ia berkata bahwa Rasulullah SAW di akhir bulan Sya`ban berkhutbah kepada kami, beliau bersabda, "Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1. 000 bulan.
Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu`). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain.


Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah).

Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan bukaan kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun." Kemudian para Sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai bukaan orang yang berpuasa." Rasulullah SAW berkata, " Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan bukaan dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (HR Baihaqî)

Khutbah Nabi SAW yang diriwayatkan dari seorang Sahabat mulia, Salman al-Farisi di atas mengandung (secara implisit) beberapa stimulan dalam menyongsong bulan Ramadhan. Nabi SAW dalam khutbahnya tersebut menginginkan agar umat Islam benar-benar memahami kualitas tamu agung yang akan mendatangi umat Islam ini. Stimulan dalam khutbah di atas dapat dijabarkan dalam beberapa poin:

Pertama, bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung dan penuh keberkahan. Keagungan dan keberkahan bulan ini dapat dilihat dari penghormatan Allah terhadapnya. Allah menurunkan Al-Qur'an di dalamnya. Selain itu, ada sebuah fenomena yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya, di mana hati setiap Mukmin tergerak untuk bersedekah lebih banyak, membaca Al-Qur'an lebih getol, dan qiyamullail. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ramadhan merupakan 'musim seminya' Al-Qur'an. Lebih dari itu semua, keagungan dan keberkahan Ramadhan karena memiliki satu malam yang nilai ibadah di dalamnya lebih baik dari 1.000 bulan, yakni malam Laitul Qadar. Hal ini secara gamblang dijelaskan oleh Allah SWT: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam Laitul Qadar. Tahukah kalian apa Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbitnya fajar." (Qs. Al-Qadr [97]: 1-5). Sungguh, malam Lailatul Qadar itu merupakan bonus ibadah bagi setiap Mukmin. Secara matematis, 1.000 bulan itu sekitar 84 tahun. Padahal umur manusia (umat Islam) jarang yang mencapai angka itu. Tapi, jika ibadah pada malam Lailatul Qadar itu benar-benar (dilakukan) karena mengharap ridha Allah, maka nilainya lebih baik dari ibadah yang dilakukan selama 1.000 bulan. Oleh karena itu, Nabi SAW memberikan contoh bagaimana agar setiap Muslim bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh akhir Ramadhan. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. beliau bersabda, "Carilah malam Lailatul Qadar itu pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam bab keutamaan 'Lailatul Qadar'/2020). Oleh karenanya, beliau menganjurkan agar setiap Mukmin yang berpuasa dapat menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan (perhitungan), "…barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan (perhitungan), maka dosanya yang telah lalu diampuni." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam bab keutamaan Lailatul Qadar/2014).

Kedua, pelipatgandaan pahala kebaikan. Ramadhan merupakan bulan yang menjadikan nilai seorang hamba berlipat-lipat. Pahala sunnah dinilai sebagai pahala amal yang wajib, yang dikerjakan pada bulan lain. Bahkan, satu kebaikan dibalas dengan 70 kebaikan. Luar biasa!

Ketiga, bulan kesabaran. Proses imsâk yang dilakukan bagi setiap orang yang puasa, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari merupakan sebuah proses pembentukan karakter sabar. Satu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Pada bulan inilah setiap Mukmin yang berpuasa digembleng untuk menjadi seorang yang ulet dan tahan uji. Sehingga Nabi SAW menyatakan bahwa balasan sabar adalah surga. Hal ini sangat paralel dengan firman Allah: "Jadikanlah sabar dan shalat itu sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Baqarah [2]: 153).

Keempat, Ramadhan merupakan bulan 'semangat sosial'. Seorang yang melakukan puasa merupakan orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Empati mereka benar-benar tampak nyata. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan bersedekah dan berderma pada bulan Ramadhan sangat fenomenal. Maka tidak heran, jika sejak awal puasa, para ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah. Ini merupakan bentuk konkret dari 'kepekaan sosial'. Karena ternyata, seorang Mukmin yang berpuasa diajak langsung praktek merasakan lapar dan dahaga, sebagaimana yang dirasakan oleh para fakir-miskin. Bahkan, orang yang memberikan bukaan kepada orang yang berpuasa akan menjadi ampunan dosa, dibebaskan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukan puasa itu sendiri. Lebih untung lagi, ternyata pahala yang berpuasa itu tidak berkurang sedikitpun.

Kelima, Ramadhan memiliki tiga bagian penting: rahmat, ampunan (maghfirah) dan pembebasan dari api neraka. Tentunya, untuk memperoleh ketiga substansi puasa tersebut, seorang Mukmin harus benar-benar memurnikan niat dan membulatkan ikhtiarnya: untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah. Dengan demikian, seorang Mukmin tidak bisa bertindak pragmatis: memilah dan memilih bagian dari ketiga substansi tersebut. Ia harus dilalui secara berurutan. Dengan demikian, pembebasan dari api neraka tidak akan tercapai, sebelum diperolah maghfirah Allah SWT. Dan maghfirah ini tidak akan direngkuh, sebelum mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah SWT. Ketiga subtansi itu tidak bisa dipisahkan, karena puasa merupakan hak prerogatif Allah, "Setiap amalan Anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan aku (sendiri) yang akan membalasnya." (Hadits Qudsi. Hadits Qudsi ini diriwayatkan dari Abdullah ibn Muhammad, dari Hisyâm, dari Ma`mar, dari az-Zuhrî, dari Ibnu al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW).

Khutbah Nabi SAW adalah khutbah yang ditujukan kepada kita. Seolah-olah beliau berdiri di hadapan kita: memberikan tuntunan dalam menyambut sang tamu agung. Kita berharap khutbah beliau menjadi pedoman komplit sebelum 'sang tamu agung' datang ke hadapan kita. Dengan demikian, lahir dan batin kita telah siap menerima kehadirannya. Wallâhu a`lamu bi as-shawâb!

diposting untuk www.pkscilengkrangbandung.blogspot.com
Selengkapnya...

Gub Jabar Heryawan: Tahun 2011 Alokasikan Rp 200 Miliar Bagi Koperasi

1 komentar

KLIKOMPAS: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempatkan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM) sebagai prioritas pembangunan perekonomian daerah. Komitmen itu tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2008-2013, melalui strategi common goals dengan Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif serta Sistem Pendukungan Usaha bagi KUMKM. Utamanya diarahkan pada peningkatan akses pemasaran dan permodalan. Hal itu ditegaskan Heryawan saat memperingati Hari Koperasi ke-63 tingkat Jawa Barat, di Alun-Alun Kabupaten Subang, Sabtu (17/7).

“Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun anggaran 2011 akan menganggarkan bantuan dana bergulir sebesar Rp 200 miliar kepada 1000 hingga 3000 koperasi berkualitas. Bantuan itu digulirkan untuk setiap kecamatan. Dimana masing-masing mendapatkan alokasi sebanyak 2-4 unit koperasi. Tentunya bantuan itu dengan prioritas diberikan kepada KSP/USP (Koperas Simpan Pinjami/Unit Simpan Pinjam) dan KBMT (Koperasi Baitul Mal wa Tamwil),” jelas Heryawan di hadapan Menteri KUMKM Syarif Hasan, Ketua DPRD Jabar Irfan Suryanegara beserta ratusan hadirin lainnya yang datang di peringatan Hari Koperasi.

Atas dasar itulah, Heryawan berharap kedepan perlu dibentuk lembaga Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang secara khusus menangani bidang pembiayaan, pemasaran serta inovasi bagi KUMKM. Dengan adanya BLUD, koperasi diharapkan mampu bertindak sebagai lembaga keuangan mikro yang memberikan pelayanan kepada KUMKM yang tergabung dalam anggota koperasi. “Mudah-mudahan pola pemberdayaan tersebut dapat menciptakan koperasi yang berkualitas, tangguh dan profesional yang tersebar di setiap kecamatan bahkan di desa di seluruh wilayah Jawa Barat,” ujarnya


Lebih lanjut dalam sambutannya, Heryawan berharap, melalui tema peringatan hari koperasi kali ini, yaitu : “Mendorong Daya Saing Koperasi sebagai Pelaku Ekonomi Nasional dalam Menghadapi Perdagangan Bebas”, lebih memantapkan komitmen dan sinergitas diantara segenap pemangku kepentingan pembangunan guna menjadikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian bangsa. Hal itu sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 (Pasal 33), yang meminta semua pihak untuk meningkatkan peran dan kualitas kelembagaan koperasi lebih tangguh dan professional. Sehingga mampu bersaing dalam dinamika perekonomian global dewasa ini.


Berdasarkan data Dinas KUMKM Provinsi Jawa Barat per Desember 2009, jumlah koperasi di Jawa Barat mencapai 22.664 unit. Sementara jumlah UMKM yang mencapai 8,2 juta lebih unit usaha (6,17% dari total pelaku UMKM di Indonesia) mampu mendorong pertumbuhan sektor riil. Dengan data faktual tersebut, cukup beralasan apabila KUMKM memberikan kontribusi terbesar bagi penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat, yaitu mencapai 88,54% dari total pekerja. Begitupun kontribusi terhadap PDRB Jawa Barat cukup menggembirakan, yaitu mencapai 60,32%. “Capaian ini, tentunya merupakan modal berharga yang harus kita berdayakan secara lebih kreatif dan optimal, sebagai tulang punggung perekonomian untuk menjawab berbagai tantangan global,” tutur Heryawan.
Selengkapnya...